Ilustrasi beras medium SPHP dengan berat 5 kilogram.(f/ist)
SIMALUNGUN, Metro24 -Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah Nagori Purwodadi Kecamatan Pematang Bandar Kabupaten Simalungun diharapkan menjadi solusi atas tingginya harga kebutuhan pokok di pasaran, Selasa (26/8).
Namun, alih-alih menjadi penyelamat kantong rakyat kecil, program ini justru gagal dan menuai kekecewaan dari warga yang datang dengan harapan mendapatkan sembako murah.
“Katanya pasar murah, tapi beli beras 5 kilogram tetap Rp 60 ribu tetapi barangnya pun ngak ada,” katanya kecewa.
Sama saja kayak beli di pinggir jalan, keluh seorang ibu rumah tangga yang rela mengantre sejak pagi namun beras yang dinanti tak kunjung datang dibalai desa Purwodadi Kecamatan Pematang Bandar.
Warga lain juga mengeluhkan harga minyak goreng, telur, dan kebutuhan pokok lainnya di pasaran tinggi.”Jangankan sembako lainnya di desa beras yang dijanjikan tak kunjung datang,” katanya mengeluh.
Awalnya janji harga miring yang ditulis besar-besar di spanduk “Dijamin Harga di Bawah Harga Pasar!!” seolah tak tercermin di lapangan. Beberapa warga bahkan memilih pulang dengan tangan kosong setelah merasa kecewa atas ketiadaan beras yang ditawarkan.
“Kalau cuma janjinya, apa gunanya kami antre panjang, panas-panasan begini?” celetuk salah seorang perempuan yang ikut dalam antrean.
GPM yang semestinya menjadi solusi konkret justru tampak seperti formalitas tanpa substansi. Warga yang datang berharap bisa membawa pulang kebutuhan pokok beras dengan harga yang benar-benar terjangkau, namun justru terkesan.disuguhi janji-janji manis harga pun tak jauh berbeda dengan pasar tradisional.
PLH Pangulu Nagori Purwodadi Hendra Darmanto mengatakan awalnya program Kodim sudah dirapatkan dan dihadiri oleh Mariati Kaur Kesejahteraan Nagori Purwodadi Kecamatan Pematang Bandar pada tanggal 7 Agustus 2025.
Mantan Sekdes Nagori Purwodadi juga mengatakan menerima SK PLH Pangulu Nagori Purwodadi pada tanggal 16 Agustus 2025 dari Camat Pematang Bandar.
“Saya tidak mengetahui secara detail mengapa Gerakan Pangan Murah (GPM) yang rencananya digelar Pemerintah Nagori Purwodadi Kecamatan Pematang Bandar Kabupaten Simalungun gagal.
Sebab dikatakannya rapat Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah dan di hadiri pemerintah Nagori Purwodadi di kantor Kecamatan Pematang Bandar sebelum dirinya menerima SK PLH Pangulu Nagori Purwodadi, katanya ditemui dikantor Pangulu Purwodadi.
“Jadi saya tidak tau detailnya dan uang tunai yang telah disetorkan warga sudah dikembalikan kepada warga di Huta masing-masing,” katanya, Selasa (26/8).
Terpisah Camat Pematang Bandar Pahot Halomoan Siregar melalui Siti Robiah Damanik Kasi Kedsos Kecamatan Pematang Bandar mengatakan untuk tingkat Kecamatan Program Penerimaan Bantuan Pangan Pemerintah Pusat sejumlah 967 warga Pematang Bandar masing masing dua karung ukuran 10 kilogram dan gratis, katanya.
“Kalau di Purwodadi warga yang tidak sabar kata Kaur Kedsos Nagori Purwodadi. Dan rencananya beras yang dijanjikan dijual kepada warga sebanyak dua karung ukuran 5 kilogram dengan harga Rp 116 ribu,” katanya.
Sementara pemerhati sosial mengatakan pemerintah setempat hanya memfasilitasi kegiatan ini.
“Secara teknis, Bulog yang menjelaskan itu. Pemerintah setempat mendukung penuh agar program ini berjalan baik dan memenuhi syarat,” katanya.
Samsudin (46) juga menyampaikan bahwa GPM adalah program Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan seluruh barang yang dijual adalah produk bersubsidi.
“Produk yang tersedia kan tentu sudah di bawah HET. Beras ini bersubsidi, tidak boleh dinaikkan harganya,” tegasnya.
Namun, kenyataan di lapangan terkesan berbicara lain. Jika harga bersubsidi hanya selisih tipis dari harga biasa, lalu di mana letak ‘murah’ yang dijanjikan?.
Warga yang menjadi target utama pasar murah justru merasa terkesan program ini tidak menyentuh kebutuhan mereka secara nyata dan berasnya pun tak kunjung ada, katanya kecewa.
Dikatakannya lagi Program GPM memang dirancang untuk digelar rutin hingga ke tingkat kelurahan dan desa.
Tapi jika pelaksanaannya tak dievaluasi secara menyeluruh, bukan tak mungkin kehadirannya justru menjadi beban baru, waktu terbuang, tenaga terkuras, namun manfaat tak terasa.
“Pasar murah, tapi barangnya tak ada dan rasanya terkesan janji janji manis katanya.(age).












