Tukinem, nenek di Asahan yang diyakini telah berusia 105 tahun.(f/ist)
ASAHAN, Metro24 -Di rumah yang teduh di Dusun I, Desa Perkebunan Aek Nagaga, Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan, seorang perempuan renta duduk bersandar di ujung tempat tidur.
Warga memanggilnya Nek Tukinem sosok sepuh yang wajahnya penuh garis waktu, namun ingatannya masih terang seperti lampu minyak di masa mudanya.
Usianya diyakini sudah melampaui satu abad. Angka yang tertulis di kartu keluarganya menunjukkan Tukinem lahir pada 25 April 1927. Namun keluarga meyakini sang nenek lahir jauh lebih awal dari yang tercatat.
Cerita turun-temurun menyebut, Nek Tukinem dibawa dari Trenggalek, Jawa Timur, oleh bibinya yang bekerja di perkebunan ke Sumatera pada 1925 saat usianya sekitar lima tahun. Jika hitungan itu benar, kini ia telah berusia sekitar 105 tahun.
Di mata anak-anaknya, Tukinem adalah pilar yang menopang ekonomi keluarga pada masa-masa sulit. Mardiah, putri ketujuhnya, masih ingat ketika ibunya menjadi satu-satunya penjahit pakaian wanita di Desa Aek Nagaga. Keahliannya tak lazim tanpa meteran, hanya jengkal jari sebagai alat ukur.
“Tapi hasilnya selalu pas,” ujar Mardiah, mengenang masa ketika suara mesin jahit menjadi musik sehari-hari di rumah mereka.
Selain menjahit, Tukinem pernah berdagang sembako, pecel, kue-kue, hingga es cendol keliling. Dari usaha kecil itu, delapan anaknya dapat menamatkan sekolah dan meniti hidup lebih baik dari generasi sebelumnya.
Tahun 1977 menjadi masa paling sunyi ketika suaminya, Karni buruh kontrak di kebun Lonsum meninggal dunia. Tukinem terpaksa berpindah-pindah mengikuti anak-anaknya. Kesehatannya yang menurun membuat ia berhenti menjahit dan berdagang, hingga akhirnya menetap bersama anak keenamnya, Marsyid.
Meski renta, Tukinem masih memiliki pendengaran tajam dan memori kuat. Hanya mata kanannya yang pelan-pelan kabur. Ia masih mengandalkan tongkat kayu bekas gagang sapu, meskipun sudah tersedia tongkat besi yang lebih modern.
Beberapa warga kerap mengaitkan usia panjang Tukinem dengan cerita mistis. Ia selalu menolak bahkan menertawakan anggapan tersebut.
“Apa pegangan? Yang ada tongkat. Kalau kuberi tongkat ini, aku jalan pakai apa?” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Marsyid percaya usia panjang ibunya berasal dari disiplin ibadah dan pola hidup bersih. “Emak tak pernah meninggalkan salat lima waktu. Sebelum salat selalu mandi dulu, supaya badan segar,” katanya.
Selera makan Tukinem mencerminkan hidup sederhana yang dijalaninya sejak muda. Ia enggan menyentuh ayam potong atau makanan instan. Hidangannya sehari-hari adalah sayur, ikan, tempe, perkedel, dan soto ayam kampung ditutup dengan es cendol dawet kesukaannya.
Beberapa tahun lalu, Nek Tukinem mengalami musibah jatuh ringan berujung patah tulang punggung, memaksanya menjalani operasi di Medan. Sejak itu, ia lebih banyak menghabiskan waktu di ranjang dengan bantuan menantunya yang merawat sepenuh hati.
Usia panjangnya membuat Tukinem menjadi saksi tumbuhnya empat generasi: anak, cucu, cicit, hingga canggah. Dari delapan anaknya, dua telah mendahuluinya. Ia juga sempat menunaikan ibadah haji berkat biaya dari anak ketiganya, H. Syukur. Namun ia tak ingin dipanggil “Bu Haji” apalagi “Nek Haji”.
Setiap keriput di wajah Tukinem adalah bab dari cerita panjang yang ditulis oleh kerja keras, kehilangan, dan kesederhanaan. Ia membesarkan keluarga besar dengan jahitan tanpa meteran, dagangan keliling, dan doa yang tak pernah putus.
Tubuhnya kini rapuh, tetapi kisahnya tetap tegak menjadi pengingat bahwa panjang umur bukan hanya soal hitungan tahun, melainkan tentang seberapa dalam seseorang meninggalkan teladan bagi generasi setelahnya. (mis)












