SIMALUNGUN, Metro24 – Pangulu Sai Mangke bantah terima uang Kecamatan Bosar Maligas Kabupaten Simalungun tengah mendapati sorotan publik.
Jumarno yang di kabarkan juga karyawan pelaksana PTPN 3 di isukan menerima uang tunai dari pengusaha pertambangan pasir di desanya, Jum’at (14/2).
Selanjutnya terkait informasi mengenai isu tentang adanya setoran tunai ia pun membatah hal itu.
Jumarno Pangulu Nagori Sai Mangke Kecamatan Bosar Maligas Kabupaten Simalungun membantah adanya menerima setoran dari pengusaha pertambangan pasir di Huta Kucingan desanya.
“Ngak ada, ngak ada, itu ke desa duitnya, yang ada di bagi tiga, ke masjid, pesantren dan desa seperti pemasangan lampu.
Malah saya meminta di normalisasi, karena dari lahan mereka (pengusaha pertambangan pasir -red), yang di lintasi milik warga pribadi.
Jadi sudah kita minta ke pengusaha pertambangan pasir untuk normalisasi.
Itukan izinnya tahun ini habis, sementara mereka hendak perpanjang, mau minta pindah ke atas, yang di bawah sudah longsor,” katanya.
Sebelumnya sempat di beritakan penambangan pasir yang beroperasi di Huta Kucingan, Nagori Sei Mangke, Kabupaten Simalungun, tetap beroperasi walaupun sekelompok warga sempat melakukan aksi demo.
Jumarno Pangulu setempat melalui
Sekdes Nagori Sei Mangke Vina Mentari SE mengatakan operasional penambangan pasir di desanya masih tetap jalan.
“Ya masih tetap beroperasi, bukan warga setempat yang demo kemarin. Supir -supir itu yang demo tangkahan pasir punya pak Sadam Tanjung,” katanya.
Penyampaian Sekdes Nagori Sei Mangke ini, Saddam Tanjung ” pemilik tangkah pasir bukan lah warga setempat Nagori Sai mangke, melainkan warga Kota Pematangsiantar, kalau tidak salah ” ungkapnya.
Selama beroperasi pak Sadam Tanjung ada memberikan kontribusi ke desa berupa (PAD) melalui Pangulu.
“Ada sekitar Rp 2 jutaan lah, tergantung muatan truk,” ungkap Sekdes Nagori Sei Mangke Vina Mentari SE
Sebelumnya sejumlah warga melakukan aksi demo, warga menilai keberadaan pertambangan pasir di desanya lebih banyak membawa dampak negatif.
Mulai dari kerusakan lingkungan hingga ketidakadilan dalam distribusi pasir untuk masyarakat setempat.
Kritik ini semakin memuncak ketika beberapa titik di sekitar lokasi tambang mengalami longsor akibat pengerukan di bantaran sungai bah bolon .
Warga khawatir jika aktivitas ini terus berlanjut, dampak ekologis yang lebih besar akan terjadi, dan mengancam keselamatan, pada Kamis (5/2/2025).
Kala itu warga yang menggelar aksi demo, di balai Nagori Sei Mangke menuntut agar pemerintah setempat segera menutup operasional tangkahan pasir.
Kades Sai Mangke bantah terima uang, Camat, Polsek Belum Beri Tanggapan
“Kami sebagai warga sekitar tidak di beri kemudahan mendapatkan pasir, padahal kami membayar, bukan meminta gratis.
Kami menyoroti tangkahan tersebut lebih mementingkan retribusi pasir untuk kepentingan perusahaan yang beroperasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke,” katanya.
Sayangnya pihak pengusaha pertambangan pasir yang beroperasi di bantaran sungai bah bolon Nagori Sei Mangke Kecamatan Bosar Maligas Kabupaten Simalungun sampai saat ini belum dapat di wawancarai.
Hal yang sama dengan Camat Bosar Maligas Rosmardiah SE sampai saat ini belum dapat di mintai penjelasan.
“Trimakasih informasinya pak nanti akan kita cek ya,” katanya.
Kapolsek Bosar Maligas juga mengatakan aksi demo bukan kemarin.
“Bukan kemaren itu, beberapa hari yang lalu itu selisih antar angkutan, dan anggota Bhabinkamtibmas kita yang di lapangan langsung menertibkan situasi dengan aman dan kondusif.
Trimakasih pak informasinya,” katanya via telepon androidnya.
Sementara amatan awak media di lokasi penambangan pasir masih tetap beroperasi diantaranya mengunakan mesin penyedot ukuran besar.
Pangulu Sai Mangke bantah terima uang, bahkan sejumlah truk dan alat berat excavator terlihat dilokasi penambangan.(age)












