Yulianto pembudi daya kelengkeng di Sidoarjo.(f/ist)
SIDOARJO, Metro24– Siapa sangka lahan kritis yang dulu dianggap tak bernilai justru menjadi ladang cuan ratusan juta rupiah. Di tangan Yulianto, warga Desa Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, tanah yang sempat diremehkan itu kini menjelma menjadi kebun kelengkeng produktif yang panen sepanjang tahun, Senin (6/4).
Perjalanan Yulianto tidak instan. Ia mengaku mulai menekuni budidaya kelengkeng sejak 2017 dengan modal nekat dan belajar secara otodidak melalui media sosial. Ia bahkan mempelajari teknik dari petani luar negeri seperti Thailand dan Vietnam.
“Awalnya saya coba-coba belajar sendiri dari internet dan lihat cara petani luar negeri. Dari situ saya yakin bisa mengembangkan di sini,” ujar Yulianto saat ditemui wartawan di kebunnya, pada Sabtu (4/4/2026).
Di lahan seluas sekitar 1,5 hektare, kini Yulianto menanam sekitar 300 pohon kelengkeng varietas unggulan New Kristal. Produktivitasnya pun tinggi. Dalam satu kali panen, satu pohon mampu menghasilkan hingga ratusan kilogram buah.
“Kalau kondisi normal, satu pohon usia 7 tahun bisa sampai 200 kilogram. Setelah panen kita istirahatkan sekitar tiga bulan, lalu bisa dibuahkan lagi,” jelasnya.
Tak hanya mengandalkan musim, Yulianto juga menerapkan teknik khusus atau booster agar tanaman kelengkeng dapat berbuah sepanjang tahun. Dengan metode ini, produksi menjadi lebih stabil dan tidak bergantung pada siklus alami.
Dari hasil panen tersebut, omzet yang diraih pun tidak sedikit. Dengan harga jual di tingkat petani berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram, Yulianto mampu meraup pendapatan puluhan hingga ratusan juta rupiah setiap musim panen.
“Saya sengaja tidak jual ke toko buah. Kalau omset puluhan juta bahkan bisa mencapai ratusan juta,” imbuh Yulianto
Namun, Yulianto tidak hanya mengejar keuntungan. Ia juga membawa misi edukasi kepada masyarakat tentang budidaya kelengkeng.
“Misi saya lebih ke edukasi masyarakat, supaya tahu kalau kelengkeng itu banyak varietasnya dan tidak semua sama,” katanya.
Selain menjual buah, ia juga mengembangkan usaha pembibitan kelengkeng yang kini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, kebunnya mulai dikembangkan menjadi destinasi agrowisata berbasis edukasi.
Pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak TK hingga mahasiswa, datang untuk belajar sekaligus merasakan pengalaman memetik buah langsung dari pohon.
“Kita arahkan ke wisata edukasi. Banyak yang datang ke sini, bahkan pejabat daerah juga pernah berkunjung untuk belajar dan petik buah,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitas tanaman, pengunjung yang ingin memetik buah diwajibkan didampingi.
“Kalau petik sendiri banyak yang rusak, jadi harus didampingi,” imbuhnya.
Ke depan, Yulianto berencana memperluas konsep agrowisata dengan menambah komoditas lain seperti melon dan kolam ikan.
Kesuksesan yang diraih saat ini tidak lepas dari perjalanan panjang yang penuh tantangan. Yulianto sempat diremehkan warga karena menanam di lahan yang dianggap tidak subur.
“Dulu dibilang gila, karena ada yang tanam 25 tahun tidak berbuah. Tapi saya yakin dengan teknik yang benar,” kenangnya.
Kini, kerja keras itu terbayar. Kebun kelengkeng miliknya tidak hanya menghasilkan omzet ratusan juta, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran pertanian bagi masyarakat luas.(dtk)












